Pameran St. Dominikus di Redemptor Mundi: Mengenal Sang Anjing Pembawa Obor

Suasana Pameran St. Dominikus di Paroki Redemptor Mundi. Sumber : Suara RM
Dalam memperingati Hari Raya Santo Dominikus, Keluarga Dominikan Chapter St. Thomas Aquinas menyelenggarakan Pameran St. Dominikus yang bertempat di Balai Paroki Redemptor Mundi Surabaya. Dimulai dengan Misa pada Sabtu (8/8/2026), pameran ini diadakan hingga Minggu (9/8/2026) pk. 20.00 WIB.
Apa Saja Panggilan dalam Mengikuti Santo Dominikus?
Setelah melakukan pendaftaran di depan Balai Paroki, pengunjung dapat memasuki pameran ini melalui pintu ruangan Caleruega. Bagi yang belum tahu, Caleruega sendiri diambil dari nama kota kelahiran Santo Dominikus loh…
Lalu umat akan disambut oleh beberapa anggota Keluarga Dominikan yang mengarahkan ke beberapa booth untuk mendapatkan informasi seputar Santo Dominikus, Ordo Pewarta, dan “panggilan” bagi umat biasa.
”Di pameran ini kita bisa belajar apa itu panggilan. Tidak hanya panggilan menjadi Pastor, Suster, ataupun hidup membiara, tetapi juga panggilan menjadi Dominikan Awam,” demikian jelas Ce Anny – salah satu keluarga Dominikan – kepada pengunjung yang menanyakan maksud acara ini.

Relikui Santo Dominikus. Sumber: Suara RM
Relikui dan Doa Rosario
Salah satu spot yang menarik perhatian pengunjung, adalah booth yang memajang relikui Santo Dominikus. Di dalam kotak kaca, ada monstrans yang menyimpan bagian tubuh Santo Dominikus.
Umat dapat berdoa sembari menumpangkan tangan di kotak kaca tersebut, pun meminta berkat bagi benda-benda suci yang dibawa.
Santo Dominikus juga mahsyur sebagai sosok yang mempopulerkan Doa Rosario. Di booth lainnya, pengunjung juga bisa melihat contoh Rosario yang digunakan Santo Dominikus serta bisa mengambil buku-tangan Rosario Dominikan.
“Dalam pengajarannya dan karena penyertaan Bunda Maria, Santo Dominikus ini adalah sosok yang mempopulerkan Doa Rosario Tiga Peristiwa di tahun 1200-an,” lanjut Ce Anny menjelaskan.

Suasana pemutaran film pendek Santo Dominikus. Sumber: Suara RM
Film Pendek 17 Menit untuk Mengenal St. Dominikus
Pengunjung yang tiba di waktu tertentu, juga bisa menyaksikan film pendek mengenai Santo Dominikus. Dalam 17 menit durasinya, film ini akan membuat kita mengerti bagaimana Santo Dominikus bisa mendapatkan julukan “Sang Anjing Pembawa Obor”.
Joana de Aza mempunyai mimpi sebelum melahirkan putranya, Dominikus. Dalam mimpi tersebut ia melihat seekor anjing keluar dari rahimnya membawa obor menyala yang membakar dunia.
Dominikus yang lahir pada 8 Agustus 1170 dan mempunyai nama asli Domingo de Guzmán kemudian tumbuh menjadi pribadi pembelajar. Pada masa itu masyarakat menghadapi kelaparan, dan Dominikus muda berinisiatif menjual bukunya untuk berderma.
Menggapai panggilannya sejak usia tujuh tahun, Dominikus ditahbiskan menjadi imam sekitar tahun 1195-1196 dan melayani sebagai kanon reguler di Katedral Osma.
Banyak peristiwa penting Santo Dominikus yang dijelaskan dalam film ini, antara lain pilihan hidup pewartaan dalam kesederhanaan di tengah Perang Salib yang berkecamuk, hingga akhirnya momen peresmian Ordo Dominikan di Toulouse tahun 1215.
Santo Dominikus mengajarkan bahwa ia bisa berjuang mewartakan Sabda Tuhan bukan dengan pedang, melainkan dengan dialog, doa, dan belas kasih.
Dengan penyertaan Bunda Maria, Ordo Dominikan mempunyai misi pewartaan ke seluruh dunia, dan inilah mengapa kita mengenal Santo Dominikus dengan julukan “Sang Anjing Pembawa Obor”, sama seperti mimpi ibunya.

Cindera mata Keluarga Dominikan. Sumber : Suara RM
Hati yang Membiara Akan Kristus
Usai menikmati mengenal lebih dalam Santo Dominikus, di ujung pameran ini Keluarga Dominikan Chapter St. Thomas Aquinas membagikan cindera mata dan menjual berbagai pernak-pernik yang berhubungan dengan Santo Dominikus.
Dalam salah satu lembaran yang dibagikan, tertulis tema dari pameran ini adalah Flaming Heart – Hati yang Membiara akan Kristus.
Jeruk juga menjadi salah satu suguhan yang cukup tematik di pameran ini. Jeruk Dominikus, begitu sebutannya. Biji buah jeruk menjadi gambaran iman kita yang perlu dijaga dan dirawat saban hari, hingga pada akhirnya buah iman siap kita bagikan sebagai wujud nyata kasih pada sesama.
Jadi, sudah siapkah kita meneladan Santo Dominikus?
Post Comment